Sejarah Perkembangan Studi Kelayakan

A. Sejarah Singkat Perkembangan Studi Kelayakan

Studi Kelayakan dalam arti yang luas telah timbul jauh sebelum berkembangnya perekonomian modern.  Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-17 yang mendorong perkembangan perindustrian dan perdagangan yang terus berlangsung sampai sekarang, hanya merupakan titik permulaan dari keperluan akan adanya suatu studi kelayakan yang lebih sistematis dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

Sebelum revolusi industri, ide studi kelayakan sudah ada di kalangan para pedagang dan pengusaha di kala itu.  Malah dapat dikatakan bahwa ide studi kelayakan timbul bersama-sama dengan timbulnya perusahaan.  Buku-buku literatur yang menceritakan tentang perkembangan studi kelayakan memang sukar diperoleh, akan tetapi dapat kita bayangkan bahwa yang akan mendirikan sebuah usaha pasti sudah mempunyai  gambaran tentang kelayakan usaha yang akan didirikannya dengan mengamati perkembangan pasar, keahlian yang dimilikinya dsb, sekalipun rekaannya tersebut tidak tertulis di atas kertas.

Kemudian dengan berkembangnya perekonomian dan bertambah kompleknya  hubungan  antara manusia, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi suatu gagasan usaha, maka diperlukan studi kelayakan dengan metode-metode yang lebih sistematis.  Pada mulanya bentuk studi kelayakan yang masih dianggap sederhama ini hanya merupakan penjajagan dari faktor-faktor yang dapat dinilai dengan uang.  Konsep social benefits dan social costs belum dikenal dalam studi kelayakan.  Selain itu faktor waktu belum dimasukkan sebagai satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai guna (utility) dari arus benefits dan costs.

Sejak awal abad ini, lebih-lebih setelah Perang Dunia II, peranan pemerintah semakin menonjol dalam sektor perekonomian tidak terkecuali negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Inggris.  Sejalan dengan itu, maka faktor-faktor yang harus dijajagi untuk menilai kelayakan suatu gagasan proyek semakin bertambah pula.  Suatu gagasan usaha dapat dikatakan tidak layak jika social costs-nya lebih tinggi dari social benefits-nya, sekalipun financial benefit-nya lebih besar dari financial costs-nya.  Berhubung dengan itu maka pengusaha mengeluarkan berbagai ketentuan yang dapat membatasi kelayakan suatu usaha.  Misalnya, pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa pabrik tidak boleh didirikan di sekitar daerah pemukiman, tidak boleh mendesak daerah pertanian dsb.  Ketentuan-ketentuan ini sudah barang tentu mengurangi ruang gerak kelayakan suatu gagasan usaha yang menyebabkan diperlukannya studi kelayakan suatu gagasan usaha yang menyebabkan diperlukan studi kelayakan yang lebih mendalam.

Satu hal lagi yang perlu dicatat disini ialah bahwa orang mulai menyangsikan bahwa uang sebesar Rp. 1.000,00 hari ini sama dengan nilai uang Rp. 1.000,00 satu tahun yad.  Sebab dalam kenyataannya ada orang yang lebih senang menerima uang Rp. 1.000,00 hari ini daripada menerimanya bulan depan.  Hal ini menunjukkan bahwa waktu dapat mempengaruhi nilai guna dari penerimaan tersebut.  Konsep di atas melahirkan metode-metode studi kelayakan yang memasukkan waktu sebagai satu faktor yang mempengaruhi arus penerimaan dan arus pengeluaran.  Dari sini timbul konsep discount rate, yakni faktor peubah nilai arus pendapatan dan biaya karena waktu.

B. Konsep Dasar Bisnis

Dalam suatu perekonomian yang kompleks seperti sekarang ini, orang harus mau menghadapi tantangan dan resiko untuk mengkombinasikan tenaga kerja, material, modal dan manajemen secara baik sebelum memasarkan suatu produk. Orang yang demikian disebut sebagai pengusaha. Lain lagi dengan produsen, ia harus mampu membuat produk secara efisien dalam jumlah maupun variasi yang dibutuhkan. Seorang pengusaha angkutan harus mampu melayani pemindahan barang secara tepat waktu dari suatu tempat ke tempat lain dimana barang tersebut dibutuhkan. Seorang pemilik took pengecer harus mampu menyediakan berbagai macam barang dengan harga yang layak bagi konsumen untuk dikonsumsi.

Motivasi utama dari kegiatan bisnis adalah laba. Laba didefinisikan sebagai perbedaan antara penghasilan dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Sehingga dalam bisnis, para pengusaha harus dapat melayani para pelanggan dengan cara yang menguntungkan untuk kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang, selain juga harus selalu mengetahui kesempatan-kesempatan baru untuk memuaskan keinginan pembeli.

Untuk memudahkan pembahasan mengenai konsep bisnis dan komponen-komponenya, berikut dapat dilihat gambar komponen bisnis.

Gambar 1. Konsep komponen bisnis

Pada hakikatnya, transaksi-transaksi bisnis dilakukan di pasar (P1) oleh perusahaan (P2). Transaksi-transaksi ini diharapkan terjadi dengan memuaskan kedua belah pihak, yaitu produsen dan konsumen. Namun,proses antara P1 dan P2 ternyata dipengaruhi secara lagsung maupun tidak langsung oleh persaingan dan aspek eksternal lainnya (P3) baik secara positif maupun negative. Selain itu, ketiga kutub ini memiliki perubahan-perubahannya sendiri (P4) , yang pada gambar di atas berbentuk lingkaran-lingkaran, dimana  secara langsung atau tidak juga akan mempengaruhi kelancaran bisnis perusahaan.

Konsep Pasar (P1)

Pasar dimana produk dari produsen ditawarkan pada konsumen potensialnya tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan. Jadi, hendaknya produsen mengetahui dengan baik bagaimana menentukan pasar produsen yang diingini. Apakah itu dalam bentuk monopoli, oligopoly, pasar persaingan sempurna, dst. Produsen hendaknya mengetahui pasar konsumen yang ingin dimasuki misalnya; pasar pemerintah, pasar penjualan kembali, pasar industri atau pasar konsumen. Selain itu perusahaan hendaknya menentukan kebijakan segmentasi pasar, target pasar, serta positioning produk di pasarnya.

Konsep Perusahaan (P2)

Disebut juga konsep lingkungan internal perusahaan. Elemen-elemen dari lingkungan internal perusahaan dapat dibagi atas fungsional perusahaan dan tingkatan manajemennya. Dari sisi fungsionalnya, lingkungan perusahaan terbagi atas fungsional pemasaran, SDM, keuangan, produksi/operasi dan manajemen. Sedangkan dari sisi tingkatan manajemen dapat dibagi atas manajemen tingkat atas, menengah dan tingkat bawah.

Konsep Persaingan dan Eksternal Lain (P3)

Kosep lingkungan eksternal adalah kondisi-kondisi yang berada di luar perusahaan dan tidak dapat dikendalikan perusahaan. Kondisi-kondisi ini meliputi kondisi politik, ekonomi, sosial, teknologi, legal dan lingkungan hidup. Lingkungan eksternal yang lain adalah lingkungan industri, yaitu suatu lingkungan dimana produk-produk perusahaan berada dan terlibat dalam persaiangan. Selain itu perusahaan-perusahaan juga melakukan kerjasama agar produk-produk secara keseluruhan tetap dapat bertahan dan terus menerus.

Konsep Perubahan (P4)

Dunia terus berubah begitu pula dengan dunia bisnis. Lingkungan bisnis seperti situasi politik, ekonomi dan lainnya terus berubah. Demikian pula situasi pasar dimana produk dijual misalnya sikap konsumen, perilaku konsumen serta daur hidup produk juag berubah. Aspek-aspek internal perusahaan, seperti kondisi SDM di dalam perusahaan selalu berubah-ubah sikap dan perilakunya, termasuk motivasi dan kepuasan mereka. Hendaknya, perubahan-perubahan yang terjadi baik di luar maupun dari dalam perusahaan dapat diantisipasi dengan baik sehingga kelemahan-kelemahan serta ancama-ancaman yang ada dapat ditutup dengan kekuatan-kekuatan dan peluang-peluang yang dimilikinya.

C. Bisnis vs Proyek

Suatu kegiatan yang berbentuk proyek adalah berbeda dengan kegiatan yang berbentuk operasional rutin. Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumberdaya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas. Misalnya: mebangun pabrik, membuat produk baru, atau mengikuti pameran perdagangan. Jadi, dari pengertian di atas terlihat bahwa ciri-ciri pokok proyek adalah:

  1. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir.
  2. Biaya, jadwal kerja, sumberdaya, kriteria mutu yang diperlukan telah ditentukan.
  3. Kegiatan bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir kegiatan-kegiatan telah ditentukan denga jelas.
  4. Kegiatan bersifat tidak rutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan nintensitas kegiatan berubah hanya sepanjang proyek berlangsung.

Disamping proyek, dikenal pula program. Program sifatnya sama dengan proyek. Perbedaannya terletak pada kurun waktu pelaksanaan dan besarnya sumberdaya yang diperlukan. Program memiliki skala lebih besar daripada proyek. Umumnya program dapat dipecah menjadi lebih dari satu proyek, atau suatu program merupakan kumpulan dari bermacam-macam proyek.

Sementara itu sesuai dengan definisinya, bisnis memiliki kegiatan-kegiatan yang tidak hanya membangun proyek, tetapi yang utama justru operasionalnya, sehingga beberapa aspek yang menjadi perhatian, termasuk mengenai layanan pada pasar potensial, kepuasan konsumen, dan persaingan bisnis telah menjadi hal yang penting. Dengan demikian sudah tampak jelas perbedaan antara kegiatan proyek dan kegiatan operasional rutin. Perbedaan yang bersifat mendasar adalah bahwa kegiatan operasional rutin didasarkan pada suatu konsep mendayagunakan sistem yang telah ada, apakah berbentuk pabrik, gedung atau fasilitas yang lain, secara terus menerus dan berulang-ulang. Sedangkan, kegiatan proyek bermaksud mewujudkan atau membangun  sistem yang belum ada. Dengan demikian urutannya adalah sistem dibangun dulu oleh proyek, baru kemudian diopersionalkan secara rutin.

D. Pentingnya Investasi

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan investasi. Diantaranya adalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa ataupun penambahan devisa. Yang jelas jika kegiatan investasi meningkat maka kegiatan ekonomi akan terpacu pula. Tentu saja bila kegiatan investasi ini merupakan investasi yang sehat, arti sebenarnya secara ekonomis menguntungkan

2. Studi Kelayakan Bisnis

A. Apa yang dimaksud Studi Kelayakan Bisnis?

Studi Kalayakan Bisnis (SKB) merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidak layak bisnis dibangun, tetapi juga saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang  maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan, misalnya rencana peluncuran produk baru. (Husein Umar,2003)

SKB adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegaiatan atau usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan. (Kasmir dan Jakfar, 2003).

Mempelajari secara mendalam artinya meneliti secara sungguh-sungguh data dan informasi yang ada, kemudian diukur, dihitung dan dianalisis hasil penelitian tersebut dengan menggunakan metode-metode tertentu.

Kelayakan artinya penelitian dilakukan secara mendalam dilakukan untuk menentukan apakah usaha yang akan dijalankan akan meberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Dengan kata lain kelayakan dapat diartikan bahwa usaha yang dijalankan akan meberikan keuntungan finansial dan non finansial sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan. Layak juga diartikan bahwa keuntungan bukan hanya untuk perusahaan saja tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas.

Proyek bisnis merupakan suatu usaha yang direncanakan sebelumnya dan dan memerlukan sejumlah pembiayaan serta penggunaan masukan-masukan lain, yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu, dan dilaksanakan dalam waktu yang tertentu pula. Karena itu, suatu proyek bisnis memperhatikan segala aspek yang relevan sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Proyek bisnis ini dapat berupa suatu pendirian usaha baru atau pengembangan dari usaha yang telah ada.

B. Mengapa SKB penting?

SKB penting untuk dilaksanakan baik pada usaha yang baru akan dijalankan maupun kepada perluasan/pengembangan dari usaha yang telah ada. Hal ini dikarenakan dalam melakukan suatu proyek bisnis digunakan masukan-masukan berupa sumberdaya maupun sumber dana. Sumberdaya dan sumber dana yang digunakan ini jumlahnya terbatas. Agar tidak terjadi pemborosan terhadap penggunaan sumberdaya dan sumber dana yang terbatas tersebut maka perlu dilakukan penelitian apakah proyek bisnis yang akan dilaksanakan akan menguntungkan atau tidak. Jika tidak menguntungkan sebaiknya proyek bisnis tersebut tidak dilaksanakan. Tetapi jika menguntungkan maka dapat diteruskan/dilanjutkan ke operasional proyek bisnis.

C. Siapa yang memerlukan SKB?

Laporan SKB yang telah dinyatakan layak untuk direalisasikan, dibutuhkan oleh banyak pihak yang memerlukannya sebagai bahan masukan utama dalam rangka pengkajian ulang, untuk turut serta menyetujui atau sebaliknya menolak kelayakan laporan tadi sesuai dengan kepentingannya. Dapat saja terjadi suatu proyek bisnis yang telah dinyatakan layak untuk  dilaksanakan pada akhirnya tidak dapat dilaksanakan. Misalnya, pengambil keputusan akhir menolak, bukan saja karena laporan tadi merupakan hasil rekayasa atau tidak objektif, tetapi dapat saja karena adanya intervensi pihak lain yang merasa kepentingannya tidak dipenuhi.

Terlepas dari kenyataan di atas, pihak-pihak yang membutuhkan laporan SKB dapat dijelaskan sbb:

  1. 1. Pihak Investor

Jika hasil SKB yang telah dibuat ternyata layak untuk direalisasikan, pendanaannya dapat mulai dicari, misalnya dengan mencari investor atau pemilik modal yang mau menanamkan modalnya pada proyek yang akan dikerjakan. Sudah tentu calon investor ini akan mempelajari laporan SKB yang telah dbuat karena calon investor mempunyai kepentingan yang akan diperoleh serta jaminan keselamatan atas modal yang akan ditanamkannya.

  1. Pihak Kreditor

Pendanaan proyek dapat juga diperoleh dari bank. Pihak bank perlu mengkaji ulang SKB yang telah dibuat terebut termasuk mempertimbangkan sisi-sisi lain, misalnya bonafiditas dan tersedianya agunan yang dimiliki perusahaan sebelum memutuskan untuk memberikan kredit atau tidak.

  1. 3. Pihak Manajemen Perusahaan

Pembuatan suatu SKB dapat dilakukan oleh pihak eksternal perusahaan selain dibuat sendiri oleh pihak internal perusahaan. Terlepas dari siapa yang membuat, jelas bagi manajemen bahwa pembuatan proposal ini merupakan suatu upaya dalam rangka merealisasikan ide proyek  yang ujung-ujungnya bermuara pada peningkatan usaha  dalam rangka meningkatkan laba perusahaan.  Sebagai pihak yang menjadi project leader, sudah tentu ia perlu mempelajari studi kelayakan ini , misalnya dalam hal pendanaan, berapa yang dialokasikan dari modal sendiri, rencana dari investor dan dari kreditor.

  1. 4. Pihak Pemerintah dan Masyarakat

SKB yang disusun perlu memperhatikan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah karena bagaimanapun pemerintah secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Penghematan devisa negara, penggalakan ekspor non migas dan pemakaian tenaga kerja massal merupakan contoh-contoh kebijakan pemerintah di sektor ekonomi. Proyek-proyek bisnis yang membantu kebijakan pemerintah inilah yang diprioritaskan untuk dibantu, misalnya dengan subsidi ataupun keringan pajak.

D. Tahap-tahap Melakukan SB

Dalam melakukan SKB terdapat beberapa tahap yang dikerjakan. Tahap-tahap yang disajikan di bawah ini bersifat umum, dan dapat disesuaikan dengan proyek bisnis yang akan dilaksanakan.

  1. 1. Tahap Penemuan Ide Proyek

Produk yang akan dibuat haruslah berpotensi untuk laku dijual dan menguntungkan. Karena itu, penelitian terhadap kebutuhan pasar dan jenis produk dari proyek harus dilakukan. Penelitian jenis produk dapat dilakukan dengan kriteria-kriteria bahwa suatu produk dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar yang masih belum dipenuhi, memenuhi kebutuhan manusia tetapi produk tersebut belum ada, dan untuk mengganti produk yang sudah ada dengan produk lain yang mempunyai nilai lebih. Sedangkan mengenai kebutuhan pasar, hasil penelitian yang diharapkan adalah bahwa produk yang akan dihasilkan dapat dijual di pasar yang cukup sehat (permintaan terhadap produk ini cukup baik dalam jangka panjang).

Selanjutnya untuk menghasilkan ide proyek tadi perlu melakukan penelitian yang terorganisasi dengan baik serta dukungan sumberdaya yang memadai.

Ide proyek yang dipilih oleh pengambil keputusan biasanya tergantung pada tiga faktor yaitu:

–          Pertama, bahwa ide proyek cocok dengan kata hati-nya;

–          Kedua, mampu melibatkan diri dalam hal-hal teknis;

–          Ketiga, keyakinan akan kemampuan proyek untuk menghasilkan laba.

Pada tahap ini ide proyek dapat saja lebih dari satu buah, akan tetapi pada gilirannya akan dipilih sesuai dengan prioritasnya.

  1. 2. Tahap Penelitian

Setelah ide-ide proyek dipilih, selanjutnya dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan memakai metode ilmiah. Proses ini dimulai dengan mengumpulkan data, lalu mengolah data dengan memasukkan teori-teori yang relevan, menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan dengan alat-alat analisis yang sesuai, menyimpulkan hasil sampai pada pekerjaan membuat laporan hasil penelitiannya.

  1. 3. Tahap Pengurutan Usulan yang Layak

Jika terdapat lebih dari satu usulan proyek bisnis yang layak, tetapi terdapat keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manajemen untuk merealisasikan semua usulan proyek maka perlu dilakukan pemilihan proyek yang dianggap paling penting untuk direalisasikan. Sudah tentu usulan proyek yang diprioritaskan mempunyai skor tertinggi jika dibandingkan dengan usulan proyek yang lain berdasarkan kriteria-kriteria penilaian yang telah ditentukan.

  1. 4. Tahap Rencana Pelaksanaan Proyek Bisnis

Setelah dipilih usulan proyek yang akan direalisasikan, perlu dibuat suatu rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek itu sendiri. Mulai dari menentukan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan dana dan sumberdaya lain, kesiapan manajemen, dan lain-lain.

  1. 5. Tahap Pelaksanaan Proyek Bisnis

Setelah semua persiapan yang harus dikerjakan selesai disiapkan, tahap pelaksanaan proyek pun dimulai. Semua tenaga pelaksana proyek, mulai dari pemimpin proyek sampai pada tingkat yang paling bawah, harus bekerja sama dengan sebaik-baiknya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Memang pada kenyataannya sulit ditemukan bawah rencana yang dibuat sama persis dengan realisasinya.

E. Aspek-aspek yang diteliti

Gambar 2. Contoh alur informasi antar aspek yang diteliti

Sampai saat ini belum ada keseragaman mengenai aspek-aspek bisnis apa saja yang harus diteliti dalam rangka studi kelayakan bisnis. Tetapi paling tidak harus mengacu pada aspek-aspek di bawah ini:

Aspek Pasar dan Pemasaran

Melihat perkembangan produk/ bisnis yang dituju apakah masih ada peluang , data permintaan dan penawaran, bagaimana strategi yang akan diterapkan

Aspek Teknik dan Teknologi

Utama :

Lokasi Usaha, Bahan Baku, Sarana & Prasarana, Daerah Pemasaran, Mesin & Peralatan

Amdal

Pendukung :

Lingkungan Lokasi Usaha, Pengembangan kedepan , Sikap Masyarakat. terhadap Bidang Usaha,  Dampak Teknologi

Aspek Yuridis

Pemahaman tentang legalitas usulan investasi, jenis-jenis  badan hukum usaha, jenis-jenis

izin usaha,dan  dokumen yang diperlukan.

Aspek Manajemen

Aktifitas Pra Operasi

Persiapan Pembangunan ,

Sarana dan Prasarana

Pelaksananya

Target Penyelesaian

Aktifitas Operasi Komersil

Bentuk Badan Usaha,

Struktur Organisasi,

Job Descripation, dan

Job Specification.

Aspek Keuangan

Besarnya dana untuk Investasi Tetap & Modal Kerja

Sumber Pendanaan (internal & Eksternal)

Prakiraan : Pendapatan, Biaya, Laba/Rugi, Aliran Kas

G. Perbedaan Intensitas SKB

Tidak semua proyek bisnis diteliti dengan intensitas yang sama, hal ini tergantung:

·         Besarnya investasi yang ditanam, semakin besar investasi semakin dalam dan semakin banyak aspek yang harus diteliti. (Pabrik kertas –dealer mobil)

·         Ketidakpastian proyek bisnis.  Makin sulit memperkirakan penghasilan, biaya, aliran kas dll, semakin tinggi tingkat kehati-hatian.

·         Kompleksitas elemen-elemen yang mempengaruhi. Semakin kompleks elemen-elemen yang mempengaruhi semakin banyak dan semakin dalam aspek yang diteliti

Latihan

Temukan ide usaha sebanyhak-banyaknya yang akan menjadi proyek bisnis anda. Pastikan bahwa ide usaha tersebut berpotensi untuk laku dijual dan menguntungkan dalam jangka waktu yang relatif panjang. Cari data dan informasi yang dapat mendukung bahwa ide usaha tersebut mempunyai peluang pasar yang menjanjikan

Daftar Pustaka

1, Dwi Eka Novianty, Studi Kelayakan, Analisis Finansial Universitas  IBA  Press,

Palembang, 2009

2.  Husein Umar, .Studi Kelayakan Bisnis ,Gramedia, Jakarta, 2003
3., Kasmir dan Jakfar, .Studi Kelayakan Bisnis, Kencana, Jakarta, 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: